Tulisan ini disadur dari fanpage Ustadz Kirito yang diposting pada tanggal 9 September 2018...Enjoy!!
Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap Nabi memiliki ksatria dan ksatriaku
adalah Zubair.” (HR. Bukhari)
Hadits di atas diucapkan Rasulullah SAW setelah Zubair bin Awwam berhasil 3
kali menyusup ke benteng Yahudi sendirian dan memata-matai isinya.
Entah bagaimana cara masuknya, entah bagaimana cara menyamarnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai pendekar andalan nabi, dia tak hanya mahir dalam pertarungan namun juga memiliki skill infiltrasi (penyusupan) dan spionase (memata-matai) yang hebat bagaikan prajurit pasukan elit.
Entah bagaimana cara masuknya, entah bagaimana cara menyamarnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai pendekar andalan nabi, dia tak hanya mahir dalam pertarungan namun juga memiliki skill infiltrasi (penyusupan) dan spionase (memata-matai) yang hebat bagaikan prajurit pasukan elit.
Skill bertarungnya level S. Keberaniannya jauh di atas manusia
normal. Bahkan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib yang terkenal kuat dan
pemberani mengakui kehebatannya.
Menurut Umar bin Khattab, Zubair termasuk 1 dari 4 orang yang masing-masing kekuatannya setara 1000 orang.
Jadi kalau ada yang bilang kekuatan satu prajurit Denjaka setara 120 kekuatan prajurit TNI biasa, satu prajurit KOPASSUS setara sekian prajurut TNI biasa, itu bukanlah hal yang mustahil.
Menurut Umar bin Khattab, Zubair termasuk 1 dari 4 orang yang masing-masing kekuatannya setara 1000 orang.
Jadi kalau ada yang bilang kekuatan satu prajurit Denjaka setara 120 kekuatan prajurit TNI biasa, satu prajurit KOPASSUS setara sekian prajurut TNI biasa, itu bukanlah hal yang mustahil.
Ali bin Abi
Thalib, berkata “Zubair adalah orang yang paling berani. Tidak ada yang
mengetahui kadar orang yang besar kecuali orang yang besar.” Maksudnya adalah
Ali tahu betapa pemberaninya Zubair karena dia sendiri juga pemberani.
Dari 2 poin di atas kita bisa
mengambil pelajaran bahwa yang paling berhak menilai seseorang adalah orang
yang selevel dalam bidangnya, misal pemain bola menilai pemain bola, penyanyi
menilai penyanyi, politisi menilai politisi, ulama menilai ulama, dll.
Jangan kaya bocah jaman now, baru belajar agama lewat YouTube, Google & grup WA udah merasa paling pinter, sok-sokan menilai bahkan berani menyalahkan ustadz lulusan pesantren & perguruan tinggi yang sudah temenan sama ratusan buku & kitab.
Jangan kaya bocah jaman now, baru belajar agama lewat YouTube, Google & grup WA udah merasa paling pinter, sok-sokan menilai bahkan berani menyalahkan ustadz lulusan pesantren & perguruan tinggi yang sudah temenan sama ratusan buku & kitab.
Ciri khasnya dalam pertempuran
adalah dia membawa 2 pedang di kiri dan kanan. Selain itu, dia punya tombak
kecil yang di taruh di punggungnya. Tombak ini runcing di kedua sisinya dan
khusus digunakan untuk menghadapi musuh yang kuat.
Dalam peperangan, dia biasanya
bukan di barisan depan melainkan di depan barisan.
Seringkali ketika pasukan muslimin dan musuh sudah dalam posisi berhadapan, sebelum komandan memerintahkan menyerang, Zubair sudah maju duluan mendekati musuh. Bukan menyerang melainkan beratraksi memamerkan skillnya di depan barisan pasukan musuh.
Entah bagaimana caranya apakah pamer jurus, memutar-mutar tombak, loncat-loncatin kuda sambil melotot plus mengacungkan pedang ke arah komandan musuh, wallahu a’lam.
Kalo ada musuh berani maju duluan, langsung dia tebas di tempat itu juga.
Seringkali ketika pasukan muslimin dan musuh sudah dalam posisi berhadapan, sebelum komandan memerintahkan menyerang, Zubair sudah maju duluan mendekati musuh. Bukan menyerang melainkan beratraksi memamerkan skillnya di depan barisan pasukan musuh.
Entah bagaimana caranya apakah pamer jurus, memutar-mutar tombak, loncat-loncatin kuda sambil melotot plus mengacungkan pedang ke arah komandan musuh, wallahu a’lam.
Kalo ada musuh berani maju duluan, langsung dia tebas di tempat itu juga.
Setelah
mendengar teriakan takbir tanda perintah menyerang dari komandan pasukan muslim
yang berada jauh di belakangnya, tidak perlu menunggu lama, Zubair langsung
menerjang barisan pasukan musuh. Sementara teman-temannya sedang berlari
mendekat menyerbu pasukan musuh, Zubair sudah bacok-bacokan duluan di kerumunan
musuh.
Sehebat-hebatnya Zubair dia
tidak pernah sok jagoan dan bertindak gegabah seperti tokoh utama anime. Belum
diperintah sudah nyerang duluan.
Gara-gara aksi
Zubair semacam ini, mental lawan nge-drop duluan. Mereka yang harusnya fokus
menghadapi pasukan muslim di depan, malah jadi gagal fokus, barisan kacau,
formasi pasukan bubar, sehingga tentara muslimin bisa menyerang dengan mudah.
Cara berperang Zubair terlau
greget bagi manusia normal. Sambil tebas sana sini, bacok kanan kiri, dia terus
bergerak maju dari depan pasukan musuh hingga tembus ke belakang, setelah itu
kembali mengacak-acak musuh sembil bergerak dari belakang sampai tembus ke
depan lagi.
Menurut para sahabat, kekuatan
utama pasukan kaum muslimin ada di 3 orang yaitu Zubair, Hamzah, dan Ali.
Walaupun jagoan, Zubair selalu
menjaga penampilan. Dia selau pakai baju bersih dan rapi termasuk ketika sedang
berperang. Malaikat Jibril kadang mendatangi Rasulullah saw dalam wujud manusia.
Namun dia tidak sembarangan menjelma. Jibril hanya mau menyerupakan dirinya
dalam wujud 2 orang sahabat, yaitu Zubair yang terkenal selalu menjaga
penampilan dan Dihyah Al Kalbi, sahabat paling tampan se-Madinah.
Dari sini kita bisa mengambil
pelajaran bahwa menjaga penampilan adalah sesuatu tak boleh diremehkan. Tak
perlu mewah, asalkan bersih dan rapi.
Di Perang Badar,
ada seorang prajurit Quraisy yang menggunakan baju besi di seluruh tubuh
sehingga hanya terlihat matanya, bahkan kudanya pun menggunakan pakaian besi.
Orang ini punya skill langka yaitu mampu menggunakan pedang yang sangat panjang
seperti galah. Para sahabat berusha mengalahkannya dengan susah payah tapi tak
berhasil. Selain jangkauan serangannya yang jauh, pertahanannya juga sangat
sulit ditembus. Dia bebas menebas musuhnya, sedangkan semua serangan tak mempan
kepadanya. Ketika Rasulullah saw mendengar tentang ini, beliau memerintahkan
Zubair untuk membereskannya.
Kira-kira bagaimana cara Zubair mengalahkan orang ini?
Kalo kamu jadi Zubair kamu harus gimana?
Silakan berimajinasi dulu…
Kira-kira bagaimana cara Zubair mengalahkan orang ini?
Kalo kamu jadi Zubair kamu harus gimana?
Silakan berimajinasi dulu…
Sementara si
orang Quraisy itu sedang asyik bacokin orang-orang yang tidak bisa membalas,
Zubair mencari celah. Ternyata satu-satunya bagian yang tak tertutup adalah
matanya. Zubair menyiapkan tombaknya, setelah mendapat kesempatan dia lempar
dan mengenai tepat di antara kedua mata lawannya itu, menancap hingga tembus ke
belakang. (Masuk Pak Zubair!)
Setelah lawannya mati, Zubair kesulitan mengambil tombak yang menancap di kepala orang itu hingga tombaknya bengkok.
Setelah lawannya mati, Zubair kesulitan mengambil tombak yang menancap di kepala orang itu hingga tombaknya bengkok.
Di Perang Uhud, Zubair bergabung
dalam tim kecil yang berisi para sahabat dengan skill bertarung tingkat tinggi
diantaranya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, Ashim bin
Tsabit dan beberapa sahabat
Tim kecil ini fokus menyerang pemegang bendera pasukan musuh karena dalam tradisi perang saat itu, jika suatu pasukan benderanya jatuh, maka pasukan itu dianggap kalah walaupun jumlah mereka masih banyak. Sebaliknya, walaupun sisa 1 orang, asalkan bendera masih berdiri, maka belum dianggap kalah.
Tim kecil ini fokus menyerang pemegang bendera pasukan musuh karena dalam tradisi perang saat itu, jika suatu pasukan benderanya jatuh, maka pasukan itu dianggap kalah walaupun jumlah mereka masih banyak. Sebaliknya, walaupun sisa 1 orang, asalkan bendera masih berdiri, maka belum dianggap kalah.
Ketika perang dimulai, mereka
berempat langsung maju melesat menuju pemegang bendera yang ada di tengah
pasukan musuh. Mereka menerjang barisan para ‘ikan teri’ yang tidak pantas
melawan mereka. Dalam waktu singkat mereka berhasil menghabisi pemegang bendera
padahal dia adalah orang dianggap terkuat dalam pasukan. Satu per satu prajurit
musuh berdatangan berusaha mendirikan kembali bendera yang sudah jatuh, tapi
mendatangi bendera sama saja mendatangi ajal karena tim ini siap menyambut
mereka. Ditambah lagi dengan adanya ‘sniper support’ dari pemanah yang
tembakannya tak pernah meleset yaitu Sa’ad bin Abi Waqash dan juga 50 orang tim
pemanah yang ada di atas bukit. Tak lama kemudian, di sekitar bendera
tergeletaklah mayat-mayat para prajurit Quraisy yang berusaha mendirikan
bendera. Pasukan Quraisy langsung shock berat karena bendera sudah jatuh
padahal perang baru saja dimulai. Setelah itu tak ada lagi yang berani mencoba
mendirikan bendera walaupun Abu Sufyan sang komandan Quraisy memerintahkannya.
Akibatnya, pasukan Quraisy menjadi kacau balau dan terpukul mundur dan dikejar
oleh kaum muslimin termasuk tim Hamzah.
Di perang ini, Rasulullah juga
memerintahkan Zubair untuk menghadapi seorang prajurit musuh yang sangat kuat. Tidak
butuh waktu lama, Zubair langsung memacu kudanya menuju orang yang ditunjuk,
dia berdiri di atas kudanya, melompat ke arah target, jatuhkan target, dan….
jleb! Mission complete!
Gara-gara tim pemanah tidak
mematuhi instruksi nabi, kaum muslimin kalah di Perang Uhud. Namun ini bukan
kekalahan telak. Setelah pasukan pulang ke Madinah, para sahabat hanya minum
air, lalu Rasulullah memerintahkan seluruh pasukan yang baru saja pulang perang
agar mengejar pasukan Quraisy.
Ini baru saja pulang perang loh. Masih ada yang berdarah-darah, tulang patah, gigi pecah, udah lihat rumah plus anak istri di depannya, tapi bukannya pulang malah langsung balik lagi mengejar musuh yang baru saja menang.
Dari 600an sahabat yang tersisa, terbentuklah sebuah kelompok berisi 70 orang yang dipimpin Zubair dan Abu Bakar. Kelompok ini berada di depan mendahului 500an pasukan inti.
Strategi super geget ini berhasil. Sepanjang sejarah, di saat itu (dan mungkin sampai sekarang) itulah satu-satunya kejadian ada pasukan sudah kalah, luka parah, berdarah darah, masih mau nyerang lagi. Ngga bakalan ada yang model begini kecuali orang yang memang siap mati. Akibatnya, pasukan Quraisy yang masih berjumlah 2900an orang ketakutan dan lebih memilih melanjutkan perjalanan pulang ke Mekah daripada harus melawan kaum muslimin lagi.
Mengenai hal ini, turunlah QS. Ali Imran ayat 172,
“(yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar.”
Ini baru saja pulang perang loh. Masih ada yang berdarah-darah, tulang patah, gigi pecah, udah lihat rumah plus anak istri di depannya, tapi bukannya pulang malah langsung balik lagi mengejar musuh yang baru saja menang.
Dari 600an sahabat yang tersisa, terbentuklah sebuah kelompok berisi 70 orang yang dipimpin Zubair dan Abu Bakar. Kelompok ini berada di depan mendahului 500an pasukan inti.
Strategi super geget ini berhasil. Sepanjang sejarah, di saat itu (dan mungkin sampai sekarang) itulah satu-satunya kejadian ada pasukan sudah kalah, luka parah, berdarah darah, masih mau nyerang lagi. Ngga bakalan ada yang model begini kecuali orang yang memang siap mati. Akibatnya, pasukan Quraisy yang masih berjumlah 2900an orang ketakutan dan lebih memilih melanjutkan perjalanan pulang ke Mekah daripada harus melawan kaum muslimin lagi.
Mengenai hal ini, turunlah QS. Ali Imran ayat 172,
“(yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar.”
Di Perang Ahzab,
ada 3 orang kafir yang menantang duel. Yang pertama dan merupakan yang terkuat
dikalahkan oleh Ali bin Abi Thalib. Yang kedua kabur karena ketakutan gara-gara
temannya yang terkuat dikalahkan Ali. Yang paling apes yang terakhir. Mau kabur
tapi gagal. Tubuhnya terbelah 2 hanya dengan satu kali tebasan oleh Zubair.
Perang berikutnya terjadi di
Khaibar, lokasi benteng orang-orang Yahudi. Di perang itu terjadi beberapa duel
antara para jagoan dari kedua belah pihak.
Salah satu yang menantang duel adalah pendekar Yahudi bertubuh sangat besar yang bernama Yasir. Saking besarnya, ketika melihat dia Rasulullah saw bersabda, “Tinggi sekali orang ini! Apakah menurut kalian tingginya 5 hasta (sekitar 2,5m)?”
Para sahabat menjawab, “Lebih tinggi Ya Rasululah!”
Yasir menantang duel sambil bersyair, “Benteng Khaibar telah mengenalku. Akulah Yasir ksatria yang tak terkalahkan!”
Zubair menjawab tantangan itu sambil bersyair, “Akulah Zubair yang hidup selalu mulia dan tak pernah mundur!”
Walaupun Zubair juga bertubuh besar, tapi tingginya hanya sampai ke dada Yasir.
Ibu Zubair yang saat itu hadir di pertempuran bahkan sampai ragu bahwa anaknya bisa mengalahkan orang itu. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, orang itu akan membunuh anakku!”
Namun Rasulullah saw menjawab, “Justru anakmulah yang akan membunuhnya.”
Maka terjadilah the most epic battle di perang Khaibar ini. Sebenarnya Zubair bisa mengakhiri pertaruangan itu dengan cepat, tapi dia mempermainkan musuhnya dulu. Karena tubuhnya yang besar, walaupun kuat, mampu menebang pohon kurma dengan sekali tebasan pedang, tapi serangan Yasir lamban sehingga bisa dihindari oleh Zubair. Setiap menemukan celah, Zubair tidak menyerang melainkan hanya menyentuh badan atau mengetok kepala Yasir seolah menunjukkan bahwa sebenarnya dia bisa membalas serangan dengan mudah. Duel ini diakhiri dengan tusukan pedang Zubair di leher Yasir.
Salah satu yang menantang duel adalah pendekar Yahudi bertubuh sangat besar yang bernama Yasir. Saking besarnya, ketika melihat dia Rasulullah saw bersabda, “Tinggi sekali orang ini! Apakah menurut kalian tingginya 5 hasta (sekitar 2,5m)?”
Para sahabat menjawab, “Lebih tinggi Ya Rasululah!”
Yasir menantang duel sambil bersyair, “Benteng Khaibar telah mengenalku. Akulah Yasir ksatria yang tak terkalahkan!”
Zubair menjawab tantangan itu sambil bersyair, “Akulah Zubair yang hidup selalu mulia dan tak pernah mundur!”
Walaupun Zubair juga bertubuh besar, tapi tingginya hanya sampai ke dada Yasir.
Ibu Zubair yang saat itu hadir di pertempuran bahkan sampai ragu bahwa anaknya bisa mengalahkan orang itu. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, orang itu akan membunuh anakku!”
Namun Rasulullah saw menjawab, “Justru anakmulah yang akan membunuhnya.”
Maka terjadilah the most epic battle di perang Khaibar ini. Sebenarnya Zubair bisa mengakhiri pertaruangan itu dengan cepat, tapi dia mempermainkan musuhnya dulu. Karena tubuhnya yang besar, walaupun kuat, mampu menebang pohon kurma dengan sekali tebasan pedang, tapi serangan Yasir lamban sehingga bisa dihindari oleh Zubair. Setiap menemukan celah, Zubair tidak menyerang melainkan hanya menyentuh badan atau mengetok kepala Yasir seolah menunjukkan bahwa sebenarnya dia bisa membalas serangan dengan mudah. Duel ini diakhiri dengan tusukan pedang Zubair di leher Yasir.
Setelah penaklukan Kota Mekah,
terjadilah Perang Hunain. Saat itu pasukan muslim terdiri atas berbagai macam
suku dengan ciri khas masing masing.
Muncullah sekelompok pasukan
yang menggantungkan cambuk di kepala kuda mereka .
Sang komandan musuh (K) bercakap-cakap dengan anak buahnya (A).
(K) :“Dari mana suku muslimin yang sedang berkumpul itu?”
(A) : “Itu dari suku Sulaim.”
(K) : “Oh, tidak perlu cemas. Mereka bukan apa-apa.”
Sang komandan musuh (K) bercakap-cakap dengan anak buahnya (A).
(K) :“Dari mana suku muslimin yang sedang berkumpul itu?”
(A) : “Itu dari suku Sulaim.”
(K) : “Oh, tidak perlu cemas. Mereka bukan apa-apa.”
Kemudian muncullah sekelompok
pasukan yang menaruh cambuk, busur & peralatan di bagian belakang kuda
mereka.
(K) :“Dari mana suku muslimin yang itu?”
(A) : “Itu teman teman Muhammad dari Madinah.”
(K) : “Tidak usah khawatir! Terus perkuat pasukan! Bisa kita hadapi!”
(K) :“Dari mana suku muslimin yang itu?”
(A) : “Itu teman teman Muhammad dari Madinah.”
(K) : “Tidak usah khawatir! Terus perkuat pasukan! Bisa kita hadapi!”
Datang lagi sekelompok pasukan
yang menaruh cambuk di telinga kuda mereka.
(K) : “Siapa mereka?” tanya komandan lagi.
(A) : “Itu teman-teman Muhammad dari penduduk Mekah.”
(K) : “Siapa yang memakai sorban kuning itu?”
(A) : “Itu Zubair bin Awwam.”
(K) : “Sekarang larilah!”
(K) : “Siapa mereka?” tanya komandan lagi.
(A) : “Itu teman-teman Muhammad dari penduduk Mekah.”
(K) : “Siapa yang memakai sorban kuning itu?”
(A) : “Itu Zubair bin Awwam.”
(K) : “Sekarang larilah!”
Ketika menjadi khalifah, Umar
bin Khattab mengirim 2 pasukan besar. Yang satu ke wilayah Romawi di Syam dan
Mesir sedangkan pasukan satunya ke Persia sehingga terjadilah 2 pertempuran
terbesar yang pernah dialami kaum muslim yaitu Perang Yarmuk dan Perang
Qadisiyyah melawan 2 negara adidaya saat itu yaitu Romawi dan Persia.
Pasukan muslimin yang dikirim ke Syam & Mesir berjumlah 4000 orang dan harus menghadapi tentara Romawi dalam jumlah yang jauh lebih besar. Amru bin Ash yang memimpin pasukan ini adalah panglima hebat. Dia berhasil mengepung benteng Romawi di Mesir dengan pasukan yang jumlahnya hanya beberapa persen dari pasukan musuh. Namun dia tetap merasa kesulitan jika harus menghadapi Romawi hanya dengan 4000 prajurit. Amru pun menulis surat ke Khalifah Umar minta dikirim lagi minimal 8000 orang karena menurut sabda nabi bahwa pasukan muslim jika jumlahnya mencapai 12.000 maka tak akan terkalahkan. Ternyata jumlah pasukan di Madinah tidak mencapai 8000. Apa yang Umar lakukan? Sang khalifah yang super greget ini mengirim hanya 4000 tentara ditambah 4 orang yang masing-masing kekuatannya setara 1000 orang.
Pasukan muslimin yang dikirim ke Syam & Mesir berjumlah 4000 orang dan harus menghadapi tentara Romawi dalam jumlah yang jauh lebih besar. Amru bin Ash yang memimpin pasukan ini adalah panglima hebat. Dia berhasil mengepung benteng Romawi di Mesir dengan pasukan yang jumlahnya hanya beberapa persen dari pasukan musuh. Namun dia tetap merasa kesulitan jika harus menghadapi Romawi hanya dengan 4000 prajurit. Amru pun menulis surat ke Khalifah Umar minta dikirim lagi minimal 8000 orang karena menurut sabda nabi bahwa pasukan muslim jika jumlahnya mencapai 12.000 maka tak akan terkalahkan. Ternyata jumlah pasukan di Madinah tidak mencapai 8000. Apa yang Umar lakukan? Sang khalifah yang super greget ini mengirim hanya 4000 tentara ditambah 4 orang yang masing-masing kekuatannya setara 1000 orang.
Karena jauhnya jarak antara
lokasi peperangan sangat jauh, ketika 4000+4 orang ini tiba di TKP, pengepungan
sudah berjalan 7 bulan. Setelah dijelaskan tentang situasi dan kondisi di sana,
Zubair mengajak 5 orang membuat regu, memutari benteng yang mereka kepung
sambil melihat, mengamati, memetakan, menganalisis kekuatan musuh dan mencari
celah untuk masuk ke benteng. Setelah selesai, dia berkata kepada Amru,
“Izinkan saya menembus benteng ini.”
“Ya silakan kalau bisa!” jawab Amru.
Zubair mengatur strategi dengan timnya. Dia berhasil memanjat benteng tanpa ketahuan, menghabisi bebrapa prajurit, bertakbir, 5 temannya mengikutinya. Entah apa yang mereka lakukan di dalam, tak lama kemudian pintu benteng terbuka.
Pengepungan 7 bulan oleh 4000 orang diakhiri dengan serangan 1 hari oleh 6 orang.
“Ya silakan kalau bisa!” jawab Amru.
Zubair mengatur strategi dengan timnya. Dia berhasil memanjat benteng tanpa ketahuan, menghabisi bebrapa prajurit, bertakbir, 5 temannya mengikutinya. Entah apa yang mereka lakukan di dalam, tak lama kemudian pintu benteng terbuka.
Pengepungan 7 bulan oleh 4000 orang diakhiri dengan serangan 1 hari oleh 6 orang.
Masih melawan Romawi, di
pertempuran berikutnya ada beberapa orang yang ingin meniru cara bertarung
Zubair.
“Hei Zubair, kamu kan hebat. Nanti kalau sudah mulai, kamu maju duluan terus kami ikutin dari belakang ya!”
“Memangnya bisa?” Jawab Zubair.
“Bisa lah!”
Begitulah kurang lebihnya percakapan mereka kalau dalam bahasa kita.
Seperti biasa, begitu komandan bertakbir, Zubair langsung menerjang ribuan prajurit di depannya, bacok kanan kiri, tebas sana sini, sambil maju sampai tembus ke belakang barisan musuh, lalu balik arah, melakukan hal yang sama dari belakang sampai ke depan. Setelah sampai di tempat semula, ternyata teman Zubair yang tadi masih di situ. Mereka tidak bisa maju karena tertahan pasukan musuh.
Zubair mengulangi serangannya lagi. Dia menyerbu pasukan lawan sampai belakang, nah pas balik ke depan, dia sempat tertahan dan dikeroyok musuh, luka-luka, tapi masih hidup.
“Hei Zubair, kamu kan hebat. Nanti kalau sudah mulai, kamu maju duluan terus kami ikutin dari belakang ya!”
“Memangnya bisa?” Jawab Zubair.
“Bisa lah!”
Begitulah kurang lebihnya percakapan mereka kalau dalam bahasa kita.
Seperti biasa, begitu komandan bertakbir, Zubair langsung menerjang ribuan prajurit di depannya, bacok kanan kiri, tebas sana sini, sambil maju sampai tembus ke belakang barisan musuh, lalu balik arah, melakukan hal yang sama dari belakang sampai ke depan. Setelah sampai di tempat semula, ternyata teman Zubair yang tadi masih di situ. Mereka tidak bisa maju karena tertahan pasukan musuh.
Zubair mengulangi serangannya lagi. Dia menyerbu pasukan lawan sampai belakang, nah pas balik ke depan, dia sempat tertahan dan dikeroyok musuh, luka-luka, tapi masih hidup.
Zubair dan Khalid bin Walid
adalah 2 sahabat nabi yang bisa menunggang kuda sambil bertarung dengan 2
pedang sekaligus. Mereka mengendalikan kuda dengan menepuk-nepukkan kaki ke
perut kuda.
Zubair sangat kaya dan rajin
bersedekah. Seringkali dia juga ikut menanggung biaya peperangan.
Zubair punya 1000 orang budak.
Dalam Islam ada aturan tentang perbudakan. Jika pasukan muslim memenangkan
peperangan maka pasukan yang kalah dijadikan budak. Jangan dibayangkan budak
itu diperlakukan dengan sadis, disuruh kerja paksa tanpa upah sambil dicambuki dan
diperlakukan sesuka tuannya seperti kerja rodi penjajah Belanda atau Romusha
penjajah Jepang. Islam mewajibkan memberi makan, pakaian dan mendidik budak
dengan baik. Bahkan memerdekakan budak adalah amal yang pahalanya sangat besar.
Banyak ulama besar yang dulunya adalah budak.
Waktu kecil, Zaid bin Haritsah
diculik perampok dan dijual sebagai budak, hingga akhirnya menjadi milik
Rasulullah saw. Ketika Ayah Zaid mengetahui keberadaan anaknya, dia menemui
Rasulullah saw. untuk menebus Zaid. Ternyata, Zaid lebih memilih menjadi budak
Rasulullah saw. daripada pulang bersama ayahnya sebagai orang merdeka. Hal ini
menunjukkan bahwa Rasulullah. saw memperlakukan budak dengan sangat baik.
Zubair punya 20 anak, 11
laki-laki, 9 perempuan. Semua anak laki-lakinya dinamai dengan nama sahabat
yang telah mati syahid dan berharap agar mereka mati syahid.
Zubair berpoligami. Dia berusaha
memenuhi kuota maksimal yaitu 4 orang. Tiap ada istrinya yang meninggal, dia
menikah lagi. Total istri Zubair ada 7.
Zubair mengikuti semua perang di
jaman Rasulullah saw. Dia pernah mengajak Abdullah yaitu anaknya yang masih
berumur 10 tahun ke medan perang. Mereka naik seekor kuda. Sang ayah sibuk
tebas kanan kiri, tusuk sana sini, sang anak memperhatikan.
Look son! Let me show you how to
fight!
Dia lahir 28 tahun sebelum
hijrah.
Selain karena
imannya yang kuat, Zubair menjadi begitu kuat, berani dan greget karena sejak
kecil, ibu Zubair mendidiknya dengan sangat keras. Bahkan orang orang mengira
bahwa ibu Zubair ingin membunuh anaknya.
Ibu Zubair adalah Shafiyah binti
Abdul Muthalib (tante Rasulullah saw). Artinya, Zubair adalah sepupu Rasulullah
saw.
Buah jatuh tak
jauh dari pohonnya. Shaffiyah juga merupakan emak-emak yang greget. Dialah yang
sendirian menggagalkan pemberontakan suku Yahudi Quraidzah ketika terjadi
Perang Ahzab sehingga satu kota Madinah terselamatkan.
Suatu ketika,
Paman Zubair yang bernama Naufal menegur Shafiyah yang memperlakukan anaknya
secara ekstrim. Namun Shaffiyah tak peduli. Dia berkata bahwa dia hanya ingin
anaknya menjadi seseorang yang hebat.
Zubair termasuk 7 orang pertama
masuk Islam yaitu saat umur 15 tahun. Sebagian besar orang yang duluan masuk
Islam merupakan anak muda. Dari sini kita isa mengambil pelajaran bahwa
kebangkitan Islam berawal dari anak-anak muda yang hebat.
Gara-gara masuk Islam, Naufal
yang dulu membela Zubair berubah sikap 180 derajat. Dia menyiksa keponakannya
dengan sadis. Badan Zubair dibungkus tikar, diikat, lalu api dinyalakan di
sekitarnya yang tentu saja bisa membakarnya setiap saat. Sang paman berkata,
“Kau harus meninggalkan agama Muhammad!” Zubair menjawab, “Tidak! Walaupun
engkau membakarku!” Akhirnya dia diselamatkan oleh pamannya yang lain yaitu
Hamzah bin Abdul Muthalib. Hampir saja kedua pamannya itu berduel karena Naufal
menolak melepaskan Zubair.
Zubair
mengalahkan Naufal di Perang Badar.
Saat tersebar
hoax bahwa Rasulullah saw dibunuh, Zubair yang masih berumur 15 tahun langsung
bawa pedang, datang ke rumah Rasulullah saw. Ketika tahu bahwa ternyata berita
itu bohong, dia berkata bahwa jika Rasulullah saw dibunuh, maka dia akan
membunuh pelakunya. Padahal keadaan kaum muslimin saat itu masih sangat lemah
dan jumlah mereka sangat sedikit.
Zubair ikut hijrah ke Habasyah
(Ethiopia) bersama para sahabat lain. Di sana mereka dilindungi oleh raja
Najasyi yang sangat adil. Sang raja masuk islam setelah mendengar isi Quran
dari seorang sahabat. Hal ini membuat para pendeta marah dan berusaha melakukan
kudeta. Para sahabat mengungsi untuk sementara dengan menyebrang laut merah
sampai ke Yaman. Walaupun sudah sampai ke Yaman, bukan berarti mereka aman.
Jika Najasyi kalah, mereka akan diburu. Oleh karena itu harus ada seseorang
dari para sahabat yang melihat keadaan dan mencari informasi tentang perang di
Habasyah. Maka dengan sebuah kantong yang ditiup sebagai pelampung, Zubair
berenang menyeberangi Laut Merah sampai ke Habasyah. Dia pun kembali dan
membawa kabar gembira bahwa Najasyi menang. Itu artinya dia 3 kali menantang
maut yaitu menyebrang ketika berangkat, melihat pertempuran, dan menyebrang
pulang.
Zubair Termasuk 10 orang yang
dijamin masuk surga.
Di tubuh Zubair
terdapat 13 bekas luka karena berperang. Yang terparah adalah yang di pundaknya
saking dalamnya sampai bisa dimasuki jari. Luka yang satu ini dia dapatkan
ketika dikeroyok tentara Romawi. Di dadanya ada bekas luka yang mirip mata
onta. Itu adalah bekas tusukan tombak atau anak panah.
Di Zaman Khalifah Ali bin Abi
Thalib, muncul dan berkembang satu kelompok Islam yang menyimpang didirikan
oleh seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’.
Kelompok yang di kemudian hari disebut Khawarij ini suka menebar fitnah dan adu
domba di tengah kaum muslim.
Suatu ketika mereka membuat
fitnah untuk mengadu domba para sahabat. Di satu sisi orang Khawarij mengirim
surat kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa mereka bersama
Zubair, Thalhah bin Ubaidillah (sahabat super greget yang dijuluki Elang Uhud)
dan Aisyah (istri nabi) akan memberontak kepada pemerintahan Ali (Padahal
sebenarnya mereka sendirilah yang mau memberontak). Di sisi lain mereka membuat
skenario licik dengan cara mengundang Zubair, Thalhah bin Ubaidillah dan Aisyah
lalu menyambut ketiga sahabat itu dengan pasukan perang dan mengatakan kepada
mereka bertiga bahwa Ali ingin memerangi ketiganya.
Akibatnya, bertemulah 2 pasukan yaitu pasukan Ali dengan pasukan pemberontak Khawarij yang ada Zubair, Thalhah dan Aisyah di dalamnya.
Akibatnya, bertemulah 2 pasukan yaitu pasukan Ali dengan pasukan pemberontak Khawarij yang ada Zubair, Thalhah dan Aisyah di dalamnya.
Sebenarnya Ali ingin
mengklarifikasi kebenaran berita yang dia terima. Ketiga sahabat itu juga tidak
percaya begitu saja bahwa Ali ingin memerangi mereka. Namun, yang namanya
pasukan, bawa senjata, berhadapan, siap perang, pasti mudah terprovokasi.
Begitu bertemu pasukan Ali, para pemberontak langsung menyerang. Pasukan Ali
yang belum diperintah menyerangpun mau tidak mau harus membalas sehingga
terjadilah pertumpahan darah antara sesama kaum muslimin. Inilah yang disebut Perang
Jamal.
Dari kejadian ini kita bisa
mengambil pelajaran bahwa selalu ada orang munafik yang ingin menghancurkan
kaum muslimin dari dalam. Makanya jangan heran kalau ada orang punya nama yang
Islami, beratribut ustadz, anggota ormas Islam, tapi kelakuannya super busuk
dan justru memecah belah kaum muslimin.
Pihak Ali dan 3 sahabat yang ada
di tengah-tengah pemberontak sebenarnya tidak menginginkan perang. Zubair pun
hanya menangkis serangan-serangan tanpa ada niat menyerang. Tentu saja hal ini
tidak sesuai dengan harapan para pemberontak yang ingin Zubair mengacak-acak
pasukan Ali.
Di tengah hebohnya pertempuran,
Ali mendekati Zubair. Dia mengingatkan Zubair tentang sabda Rasulullah saw yang
pernah mereka dengar bahwa suatu ketika Zubair akan memerangi Ali dan saat itu
Zubair dalam keadaan zalim. Setelah teringat, Zubair langsung mengajak Thalhah
keluar dari medan tempur, sedangkan Aisyah saat itu berada jauh di tengah
pasukan.
Dengan keluarnya Zubair dan
Thalhah dari peperangan, itu berarti rencana para pemberontak gagal dan tentu
saja mereka tidak suka melihat hal ini.
Dalam perjalanan pulang ke
Madinah, Zubair diintai oleh salah seorang dari pemberontak Khawarij bernama
Abdullah bin Jurmuz. Ketika Zubair tidur di sebuah lembah, Abdullah membunuhnya
dan memotong lehernya. Setelah itu, dia pergi ke rumah Ali untuk memberitahukan
kematian Zubair. Dia kira Ali akan senang mendengarnya. Ternyata Ali justru
tidak mau menemuinya dan berkata, “Jangan izinkan dia masuk. Beri tahu dia
bahwa dia adalah calon penghuni neraka karena aku mendengar nabi bersabda, ‘Beritahulah
pembunuh anak Shaffiyah bahwa dia akan menjadi penghuni neraka.”
Setelah mendengar itu, Abdullah langsung bunuh diri.
Setelah mendengar itu, Abdullah langsung bunuh diri.
Dalam versi lain disebutkan
bahwa Zubair dan Thalhah wafat saat masih berada di dekat medan pertempuran.
Zubair ditusuk ketika sedang bersama Ali sedangkan Thalhah terkena panah.
Setelah itu, Ali duduk, menangis, mencium jenazah mereka dan mencium pedang mereka berdua sambil berkata, “Demi Allah, inilah pedang-pedang yang mulia yang selalu digunakan pemiliknya untuk membela Rasulullah saw. dalam segala peperangan dan segala bahaya.”
Kemudian Ali berkata kepada anaknya yang bernama Muhammad bin Hanafiyah, “Hai Muhammad, aku berharap aku mati sebelum hari ini.”
Setelah itu, Ali duduk, menangis, mencium jenazah mereka dan mencium pedang mereka berdua sambil berkata, “Demi Allah, inilah pedang-pedang yang mulia yang selalu digunakan pemiliknya untuk membela Rasulullah saw. dalam segala peperangan dan segala bahaya.”
Kemudian Ali berkata kepada anaknya yang bernama Muhammad bin Hanafiyah, “Hai Muhammad, aku berharap aku mati sebelum hari ini.”
Peristiwa kematian Zubair ini
terjadi pada Kamis, 10 Jumadil Akhir tahun 36 H.
Walaupun dia mengikuti semua
pertempuran di jaman Rasulullah dan para sahabat, walaupun dia sudah
mengalahkan entah berapa ratus atau mungkin berapa ribu orang kafir, namun
ternyata Zubair justru meninggal di tangan orang muslim yang zalim. Hal ini
menunjukkan bahwa mati dalam keadaan dizalimi termasuk mati syahid.
Zubair meninggalkan harta
sebanyak 50.200.000 dirham. 1 dirham sekitar Rp50.000. Coba dikalikan! Berapa
hasilnya? Lebih dari 2,5 trilyun!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar