Artikel dari Jawa Pos terbitan 14 Juli 2015
BANI ISRAIL
BANDEL, BUTUH TERUS DIBIMBING
(Bapak
Para Nabi). Sebab dari keturunannya
(Ismail
dan Ishaq) lahir para nabi dan rasul. Tapi,
mengapa
Ishaq yang lebih banyak menurunkan
para
utusan Allah? Sementara Ismail hanya
menurunkan
Nabi Muhammad SAW. Berikut
analisis
para ahli sejarah dan filsafat Islam.
IBRAHIM adalah Putra Azar bin Tahur bin
Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Afrakhsyad bin Saam bin Nuh.
Awalnya Ibrahim hanya mempunyai satu istri, yaitu Siti Sarah. “Namun, sampai
usia 90-an tahun, Ibrahim dan Sarah tidak dikaruniai anak,” kata pakar sejarah
Islam Prof. Dr. Ali Mufrodi.
Sarah kemudian
meminta suaminya menikahi Siti Hajar. Sebenarnya, berat bagi Ibrahim menikah
lagi, namun karena diminta Sarah, dia akhirnya menikahi Hajar, perempuan
keturunan Qibti, Mesir. Tidak lama setelah itu, Hajar melahirkan anak pertama
yang diberi nama Ismail. Sarah pun ikut senang atas kelahiran Ismail. “Sarah
sayang sekali dengan Ismail,” ujar pengajar Universitas Islam Negeri Sunan
Ampel (UINSA) Surabaya tersebut.
Tidak
berselang lama, Sarah akhirnya hamil juga. Bayi yang lahir itu diberi nama
Ishaq. Menurut Ali, selain Ishaq dan Ismail,Ibrahim punya anak yang bernama
Madyan.
Ishaq punya
dua anak, Ya’qub atau Israil dan Ish. Dari keduanya, lahir para nabi dan rasul.
Ali mengatakan, Ya’qub mempunyai 12 orang anak yang menjadi para nabi dan
rasul, antara lain Yusuf, Musa Harun, Byan, Alyasa’, Yunus, Daud, Sulaiman,
Zakaria, Yahya, dan Isa. Sedangkan anak Ish yang menjadi nabi adalah Ayyub dan
Zulkifli.
Kenapa banyak
keturunan Ishaq yang menjadi nabi dan rasul? Ali mengatakan sebenarnya itu
adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahui alasannya. Namun menurut
analisisnya, Allah mengutus banyak rasul kepada Bani Israil karena kondisi
masyarakatnya yang sangat berkembang. Peradaban di Syam atau Palestina
(Jerussalem) dan sekitarnya cukup maju.
Ciri
masyarakat yang maju adalah kritis dan suka bertanya. Maka dalam Al-Qur’an
dijelaskan, Bani Israil adalah bangsa yang suka bertanya. Mereka tidak mudah
percaya dan selalu mempertanyakan sesuatu. “Selalu ngeyel. Dengan sabar para nabi membimbing mereka,” terang Pembantu
Rektor III UINSA itu.
Para rasul
tersebut diutus ke Bani Israil (sebutan untuk kaum keturunan Israil, yakni kaum
Israel) agar bisa membimbing dan mengarahkan mereka sehingga tidak melenceng
dari ajaran agama yang dibawa Nabi Ibrahim. Saat itu, jelas Ali, Bani Israil
tidak terlalu memperhatikan masalah spiritual. Yang mereka pikirkan adalah
masalah dunia. Maka tidak heran, ketika mereka bertemu dengan nabi, yang
diminta adalah perkara-perkara dunia. Ketika sudah diberi, mereka tidak puas
dan terus meminta.
Jika diminta
melaksanakan perintah Tuhan, mereka tidak langsung melaksanakannya, tapi
mengajukan berbagai pertanyaan. Misalnya ketika diperintah menyembelih sapi
betina. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 67 – 71 dicertakan bagaimana Bani Israil
selalu ngeyel ketika mendapatkan
perintah dari Allah melalui nabi mereka.
Walaupun
banyak rasul sudah diutus, Bani Israil tetap melakukan penyimpangan dalam
ajaran agama. Bahkan, mereka menyembah patung anak sapi. Ketika diminta
menyembah Allah, mereka menyatakan tidak beriman sebelum melihat Allah dengan
jelas. Kisah itu digambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 54 – 55.
Dari keturunan
Ismail, hanya Nabi Muhammad yang diutus sebagai rasul. Menurut Ali, hal itu
disebabkan kondisi Makkah, tempat tinggal Ismail dan keturunannya, berbeda
dengan tanah Syam. Makkah bukanlah wilayah yang berkembang. Masyarakatnya tidak
sekritis Bani Israil. Selain itu, masih banyak anak keturunan Ismail yang
menjaga agama yang dibawa Ibrahim, yaitu agama Hanif. Walaupun di antara mereka
juga banyak yang menyembah berhala.
Salah seorang
yang masih menjaga ajaran agama Ibrahim adalah Pendeta Buhairah. Dia percaya
yang akan diutus menjadi nabi akhir zaman adalah keturunan Ismail. Namun, Bani
Israil atau orang Yahudi tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
Sementara itu,
Dr. KH Imam Ghazali Said mempunyai pendapat berbeda terkait anak Nabi Ibrahim.
Menurut dia, anak Ibrahim hanya dua, Ismail dan Ishaq. Sedangkan Madyan
bukanlah anak Ibrahim. Madyan adalah nama daerah, bukan nama orang. Dari daerah
Madyan itu lahir seorang nabi bernama Syuaib.
Terkait
banyaknya keturunan Ishaq yang menjadi nabi dan rasul, Ghazali juga mengatakan,
itu tidak lepas dari wilayah yang menjadi tempat tinggal mereka. Yakni
Jerussalem, Hebron, Palestina, dan sekitarnya. “Wilayah itu sudah ramai sebelum
Ishaq dilahirkan,” ujar dia. Jadi sangat masuk jika banyak diutus nabi dan
rasul.
Sementara itu,
wilayah Makkah dan sekitarnya masih sepi. “Di daerah tersebut tidak ada orang.
Sehingga Allah tidak menurunkan nabi dan rasul,” kata Dekan Fakultas Adab UINSA
tersebut. Baru ketika ramai dengan manusia, Allah mengutus Nabi Muhammad.
Dalam
perkembangannya, anak keturunan Ishaq tidak hanya tinggal di Jerussalem dan
sekitarnya, tapi juga menyebar ke berbagai negara. Hal itu bermula dari
pindahnya Nabi Yusuf, anak Nabi Ya’qub ke Mesir. Yusuf dibuang
saudara-saudaranya di sumur tua. Setelah itu ditemukan para pedagang,
selanjutnya dibawa ke Mesir.
Setelah
melalui berbagai cobaan dan rintangan, Yusuf akhirnya diangkat sebagai menteri
keuangan dan mengatur kerajaan. Dia menjadi keluarga kerajaan.
Saudara-saudaranya kemudian pindah ke Mesir dan bergabung dengan Nabi Yusuf.
Mereka membentuk komunitas sendiri sebagai Bani Israil. “Mereka eksklusif
karena merasa sebagai keluarga kerajaan,” ucap dia.
Mereka merasa
lebih unggul daripada yang lain. Selain sebagai keluarga kerajaan, mereka
pintar berdagang. Jadi selain kaya, mereka pintar. Mereka menguasai
perekonomian negara. Padahal mereka orang luar, bukan asli Mesir. Masyarakat
setempat iri dengan mereka. Selanjutnya lahirlah Nabi Musa yang juga keturunan
Bani Israil. Musa mendapatkan wahyu yang isinya dia dan pengikutnya akan
mendiami tanah suci peninggalan Ibrahim, yaitu Jerussalem. Untuk itu, Musa dan
Bani Israil harus berjuang menempati tanah suci yang saat itu dikuasai
orang-orang Yabus yang terkenal kuat.
Beberapa ratus
tahun setelah itu, muncul tokoh kuat yang bernama Jalut dan Tholut. Keduanya
berebut kekuasaan. Saat itu Bani Israil tercerai-berai akibat perang sesama
saudara. Tholut bersama menantunya, yaitu Daud (kemudian menjadi nabi),
menyerang Jalut dan berhasil merebut kekuasaan.
Daud kemudian
menyatukan Bani Israil yang tercerai-berai. Mereka pun bersatu dan mengangkat
Daud menjadi raja. Istana Raja Daud dibangun di Bukit Zion. “Kata Zionisme
diambil dari tempat istana raja ini,” ucapnya. Mereka semakin kuat dan
menganggap diri sebagai bangsa pilihan yang lahir dari keturunan bangsawan.
Mereka merasa lebih unggul daripada yang lain karena dilahirkan dari Ibrahim
dan Sarah yang berlatar bangsawan. Mereka menganggap bangsa Arab lebih rendah
karena lahir dari Hajar. Menurut mereka, Hajar adalah seorang budak.
Ghazali
menambahkan, tidak semua nabi dan rasul keturunan Ibrahim. Sholeh, Hud, dan
Luth bukan keturunan Ibrahim, tapi masih kerabat yang sama-sama keturunan Nabi
Nuh.
Ketua Umum
PBNU Prif. Dr. KH Said Aqil Siradj mengungkapkan sejarah bangsa Arab maupun
bangsa Israel sama-sama berakar dari Nabi Ibrahim. Pernikahan dari istri
pertamanya, Siti Sarah, melahirkan Ishaq. Dari Ishaq inilah kemudian lahir
Ya’qub yang melahirkan banyak nabi. “Nama Israel itu ya nama Ya’qub, dari kata isra dan illohim, artinya hamba Allah,” tuturnya.
Dari dua belas
anak Ya’qub, salah satunya adalah Yusuf. Anak-anak itulah yang kemudian
berkembang menjadi sejumlah suku Bani Israil. Lahir kemudia sejumlah nabi, di
antaranya Musa, Harun, Yunus, Daud, Sulaiman, hingga Isa. “Anak keturunan
Ya’qub ini memang yang kemudian melahirkan banyak nabi,” tambah doktor dari
Universitas Ummul Quro Makkah itu.
Berbeda dengan
hasil pernikahan dengan istri yang pertama, pernikahan Ibrahim dengan Siti
Hajar yang melahirkan Ismail tidak menurunkan banyak nabi. “Dari sinilah
menghasilkan bangsa Arab. Keturunan Ismail ini yang menghasilkan Nabi
Muhammad,” bebernya.
SEMPAT PUNAH, LALU MENYEBAR
SEJARAH peradaban manusia yang dimulai
dari Nabi Adam pernah terputus ketika terjadi banjir dahsyat yang menghancurkan
dunia beserta isinya. Peristiwa tersebut terjadi pada zaman Nabi Nuh.
Setelah banjir
yang menyapu seluruh bumi itu, manusia punah, kecuali Nabi Nuh, keluarga,
beserta pengikutnya. Dalam beberapa literature, bencana tersebut terjadi
sekitar 3650 SM.
Setelah banjir
itulah, peradaban manusia kembali dimulai. Anak keturunan Nabi Nuh menyebar ke
berbagai wilayah. Ada yang di Tiongkok, India, Mesir, Yunani, dan beberapa
kawasan lain. “Jadi mungkin saja di negara-negara itu juga terdapat nabi. Tapi
bukan rasul,” jelas KH Dr Imam Ghazali Said.
Menurut dia,
Al-Qur’an hanya menceritakan sebagian nabi dan sebagian yang lain tidak. Jadi
dari ayat-ayat itu, bisa dipahami bahwa masih banyak nabi yang tidak
diceritakan. Untuk itu, tidak tertutup kemungkinan nabi-nabi lahir dan menyebar
di berbagai negara.
Bisa jadi,
kata Imam Ghazali, ada filsuf Tiongkok atau Yunani yang juga seorang nabi.
Apalagi, di Negara seperti India dan Tiongkok juga lahir agama-agama besar yang
banyak pengikutnya seperti Hindu, Buddha, dan Khonghucu.
Kejadian 17:17-20 (TB) Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?"
BalasHapusDan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
Karena ini