Selasa, 11 Agustus 2015

MENGAPA ISHAQ MENURUNKAN LEBIH BANYAK NABI DIBANDING ISMAIL?

Artikel dari Jawa Pos terbitan 14 Juli 2015
BANI ISRAIL BANDEL, BUTUH TERUS DIBIMBING

qibash.files.wordpress.com
Nabi Ibrahim mendapat julukan Abul Anbiya’
(Bapak Para Nabi). Sebab dari keturunannya
(Ismail dan Ishaq) lahir para nabi dan rasul. Tapi,
mengapa Ishaq yang lebih banyak menurunkan
para utusan Allah? Sementara Ismail hanya
menurunkan Nabi Muhammad SAW. Berikut
analisis para ahli sejarah dan filsafat Islam.

IBRAHIM adalah Putra Azar bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Afrakhsyad bin Saam bin Nuh. Awalnya Ibrahim hanya mempunyai satu istri, yaitu Siti Sarah. “Namun, sampai usia 90-an tahun, Ibrahim dan Sarah tidak dikaruniai anak,” kata pakar sejarah Islam Prof. Dr. Ali Mufrodi.
Sarah kemudian meminta suaminya menikahi Siti Hajar. Sebenarnya, berat bagi Ibrahim menikah lagi, namun karena diminta Sarah, dia akhirnya menikahi Hajar, perempuan keturunan Qibti, Mesir. Tidak lama setelah itu, Hajar melahirkan anak pertama yang diberi nama Ismail. Sarah pun ikut senang atas kelahiran Ismail. “Sarah sayang sekali dengan Ismail,” ujar pengajar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut.
Tidak berselang lama, Sarah akhirnya hamil juga. Bayi yang lahir itu diberi nama Ishaq. Menurut Ali, selain Ishaq dan Ismail,Ibrahim punya anak yang bernama Madyan.
Ishaq punya dua anak, Ya’qub atau Israil dan Ish. Dari keduanya, lahir para nabi dan rasul. Ali mengatakan, Ya’qub mempunyai 12 orang anak yang menjadi para nabi dan rasul, antara lain Yusuf, Musa Harun, Byan, Alyasa’, Yunus, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa. Sedangkan anak Ish yang menjadi nabi adalah Ayyub dan Zulkifli.
Kenapa banyak keturunan Ishaq yang menjadi nabi dan rasul? Ali mengatakan sebenarnya itu adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahui alasannya. Namun menurut analisisnya, Allah mengutus banyak rasul kepada Bani Israil karena kondisi masyarakatnya yang sangat berkembang. Peradaban di Syam atau Palestina (Jerussalem) dan sekitarnya cukup maju.
Ciri masyarakat yang maju adalah kritis dan suka bertanya. Maka dalam Al-Qur’an dijelaskan, Bani Israil adalah bangsa yang suka bertanya. Mereka tidak mudah percaya dan selalu mempertanyakan sesuatu. “Selalu ngeyel. Dengan sabar para nabi membimbing mereka,” terang Pembantu Rektor III UINSA itu.
Para rasul tersebut diutus ke Bani Israil (sebutan untuk kaum keturunan Israil, yakni kaum Israel) agar bisa membimbing dan mengarahkan mereka sehingga tidak melenceng dari ajaran agama yang dibawa Nabi Ibrahim. Saat itu, jelas Ali, Bani Israil tidak terlalu memperhatikan masalah spiritual. Yang mereka pikirkan adalah masalah dunia. Maka tidak heran, ketika mereka bertemu dengan nabi, yang diminta adalah perkara-perkara dunia. Ketika sudah diberi, mereka tidak puas dan terus meminta.
Jika diminta melaksanakan perintah Tuhan, mereka tidak langsung melaksanakannya, tapi mengajukan berbagai pertanyaan. Misalnya ketika diperintah menyembelih sapi betina. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 67 – 71 dicertakan bagaimana Bani Israil selalu ngeyel ketika mendapatkan perintah dari Allah melalui nabi mereka.
Walaupun banyak rasul sudah diutus, Bani Israil tetap melakukan penyimpangan dalam ajaran agama. Bahkan, mereka menyembah patung anak sapi. Ketika diminta menyembah Allah, mereka menyatakan tidak beriman sebelum melihat Allah dengan jelas. Kisah itu digambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 54 – 55.
Dari keturunan Ismail, hanya Nabi Muhammad yang diutus sebagai rasul. Menurut Ali, hal itu disebabkan kondisi Makkah, tempat tinggal Ismail dan keturunannya, berbeda dengan tanah Syam. Makkah bukanlah wilayah yang berkembang. Masyarakatnya tidak sekritis Bani Israil. Selain itu, masih banyak anak keturunan Ismail yang menjaga agama yang dibawa Ibrahim, yaitu agama Hanif. Walaupun di antara mereka juga banyak yang menyembah berhala.
Salah seorang yang masih menjaga ajaran agama Ibrahim adalah Pendeta Buhairah. Dia percaya yang akan diutus menjadi nabi akhir zaman adalah keturunan Ismail. Namun, Bani Israil atau orang Yahudi tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
Sementara itu, Dr. KH Imam Ghazali Said mempunyai pendapat berbeda terkait anak Nabi Ibrahim. Menurut dia, anak Ibrahim hanya dua, Ismail dan Ishaq. Sedangkan Madyan bukanlah anak Ibrahim. Madyan adalah nama daerah, bukan nama orang. Dari daerah Madyan itu lahir seorang nabi bernama Syuaib.
Terkait banyaknya keturunan Ishaq yang menjadi nabi dan rasul, Ghazali juga mengatakan, itu tidak lepas dari wilayah yang menjadi tempat tinggal mereka. Yakni Jerussalem, Hebron, Palestina, dan sekitarnya. “Wilayah itu sudah ramai sebelum Ishaq dilahirkan,” ujar dia. Jadi sangat masuk jika banyak diutus nabi dan rasul.
Sementara itu, wilayah Makkah dan sekitarnya masih sepi. “Di daerah tersebut tidak ada orang. Sehingga Allah tidak menurunkan nabi dan rasul,” kata Dekan Fakultas Adab UINSA tersebut. Baru ketika ramai dengan manusia, Allah mengutus Nabi Muhammad.
Dalam perkembangannya, anak keturunan Ishaq tidak hanya tinggal di Jerussalem dan sekitarnya, tapi juga menyebar ke berbagai negara. Hal itu bermula dari pindahnya Nabi Yusuf, anak Nabi Ya’qub ke Mesir. Yusuf dibuang saudara-saudaranya di sumur tua. Setelah itu ditemukan para pedagang, selanjutnya dibawa ke Mesir.
Setelah melalui berbagai cobaan dan rintangan, Yusuf akhirnya diangkat sebagai menteri keuangan dan mengatur kerajaan. Dia menjadi keluarga kerajaan. Saudara-saudaranya kemudian pindah ke Mesir dan bergabung dengan Nabi Yusuf. Mereka membentuk komunitas sendiri sebagai Bani Israil. “Mereka eksklusif karena merasa sebagai keluarga kerajaan,” ucap dia.
Mereka merasa lebih unggul daripada yang lain. Selain sebagai keluarga kerajaan, mereka pintar berdagang. Jadi selain kaya, mereka pintar. Mereka menguasai perekonomian negara. Padahal mereka orang luar, bukan asli Mesir. Masyarakat setempat iri dengan mereka. Selanjutnya lahirlah Nabi Musa yang juga keturunan Bani Israil. Musa mendapatkan wahyu yang isinya dia dan pengikutnya akan mendiami tanah suci peninggalan Ibrahim, yaitu Jerussalem. Untuk itu, Musa dan Bani Israil harus berjuang menempati tanah suci yang saat itu dikuasai orang-orang Yabus yang terkenal kuat.
Beberapa ratus tahun setelah itu, muncul tokoh kuat yang bernama Jalut dan Tholut. Keduanya berebut kekuasaan. Saat itu Bani Israil tercerai-berai akibat perang sesama saudara. Tholut bersama menantunya, yaitu Daud (kemudian menjadi nabi), menyerang Jalut dan berhasil merebut kekuasaan.
Daud kemudian menyatukan Bani Israil yang tercerai-berai. Mereka pun bersatu dan mengangkat Daud menjadi raja. Istana Raja Daud dibangun di Bukit Zion. “Kata Zionisme diambil dari tempat istana raja ini,” ucapnya. Mereka semakin kuat dan menganggap diri sebagai bangsa pilihan yang lahir dari keturunan bangsawan. Mereka merasa lebih unggul daripada yang lain karena dilahirkan dari Ibrahim dan Sarah yang berlatar bangsawan. Mereka menganggap bangsa Arab lebih rendah karena lahir dari Hajar. Menurut mereka, Hajar adalah seorang budak.
Ghazali menambahkan, tidak semua nabi dan rasul keturunan Ibrahim. Sholeh, Hud, dan Luth bukan keturunan Ibrahim, tapi masih kerabat yang sama-sama keturunan Nabi Nuh.
Ketua Umum PBNU Prif. Dr. KH Said Aqil Siradj mengungkapkan sejarah bangsa Arab maupun bangsa Israel sama-sama berakar dari Nabi Ibrahim. Pernikahan dari istri pertamanya, Siti Sarah, melahirkan Ishaq. Dari Ishaq inilah kemudian lahir Ya’qub yang melahirkan banyak nabi. “Nama Israel itu ya nama Ya’qub, dari kata isra dan illohim, artinya hamba Allah,” tuturnya.
Dari dua belas anak Ya’qub, salah satunya adalah Yusuf. Anak-anak itulah yang kemudian berkembang menjadi sejumlah suku Bani Israil. Lahir kemudia sejumlah nabi, di antaranya Musa, Harun, Yunus, Daud, Sulaiman, hingga Isa. “Anak keturunan Ya’qub ini memang yang kemudian melahirkan banyak nabi,” tambah doktor dari Universitas Ummul Quro Makkah itu.
Berbeda dengan hasil pernikahan dengan istri yang pertama, pernikahan Ibrahim dengan Siti Hajar yang melahirkan Ismail tidak menurunkan banyak nabi. “Dari sinilah menghasilkan bangsa Arab. Keturunan Ismail ini yang menghasilkan Nabi Muhammad,” bebernya.


SEMPAT PUNAH, LALU MENYEBAR

SEJARAH peradaban manusia yang dimulai dari Nabi Adam pernah terputus ketika terjadi banjir dahsyat yang menghancurkan dunia beserta isinya. Peristiwa tersebut terjadi pada zaman Nabi Nuh.
Setelah banjir yang menyapu seluruh bumi itu, manusia punah, kecuali Nabi Nuh, keluarga, beserta pengikutnya. Dalam beberapa literature, bencana tersebut terjadi sekitar 3650 SM.
Setelah banjir itulah, peradaban manusia kembali dimulai. Anak keturunan Nabi Nuh menyebar ke berbagai wilayah. Ada yang di Tiongkok, India, Mesir, Yunani, dan beberapa kawasan lain. “Jadi mungkin saja di negara-negara itu juga terdapat nabi. Tapi bukan rasul,” jelas KH Dr Imam Ghazali Said.
Menurut dia, Al-Qur’an hanya menceritakan sebagian nabi dan sebagian yang lain tidak. Jadi dari ayat-ayat itu, bisa dipahami bahwa masih banyak nabi yang tidak diceritakan. Untuk itu, tidak tertutup kemungkinan nabi-nabi lahir dan menyebar di berbagai negara.
Bisa jadi, kata Imam Ghazali, ada filsuf Tiongkok atau Yunani yang juga seorang nabi. Apalagi, di Negara seperti India dan Tiongkok juga lahir agama-agama besar yang banyak pengikutnya seperti Hindu, Buddha, dan Khonghucu.




1 komentar:

  1. Kejadian 17:17-20 (TB) Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?"
    Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
    Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
    Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.

    Karena ini

    BalasHapus

IPAR ADALAH MAUT

SAUDARA IPAR PEMBAWA KEMATIAN Suatu ketika Khalid terlihat sedih dan galau di meja kerjanya. Melihat keadaan itu, rekannya menghampiri dan b...